|
Condition Monitoring pada Reciprocating Compressor |
|
Condition monitoring dilaksanakan untuk mencapai beberapa tujuan perawatan sebagai berikut : 1.Meningkatkan efisiensi 2.Menaikkan faktor kesiapan unit (availability factor) 3.Memperpendek waktu pelaksanaan pemeliharaan peralatan 4.Menghindari kerusakan yang tidak terduga. 5.Memperoleh kondisi satuan unit yang handal
Conditioning monitoring untuk Recip-compressor yang kami lakukan dan kami kembangkan berbasis pada data pressure dan vibrasi. Gambar 1. Lokasi titik-titik pengukuran
|
|
baca selebihnya...
|
|
|
Pengantar Reliability Centered Maintenanace |
|
Sejarah Maintenance Sejarah maintenance di dunia, dimulai dari domain reaktif, perbaiki ketika rusak, kemudian memasuki tahun 1950-an mulai berkembang domain terencana, lahirlah teknik-teknik pencegahan sebelum rusak dengan mengganti komponen/part secara berkala (time base), dan kemudian semenjak tahun 1970-an berkembang lagimenjadi domain proaktif, dengan penerapan teknik-teknik maintenance dan management yang lebih kompleks. Termasuk didalamnya kemampuan design engineering, sistem engineering, teknik-teknik condition monitoring, NDT, penemuan-penemuan material khusus, kalibrasi/pengukuran yang akurat, perkembangan metodologi maintenance seperti reliability centered maintenance serta filosofi maintenance seperti total productive maintenance dan didukung dengan perkembangan software-software khusus maintenance. Kemudian juga sebuah bench mark untuk menjadi world class maintenance (disampaikan juga oleh John Dixon Campbell, dalam bukunya Uptime: strategies for excellence in maintenance Management). Reliability Centered Maintenanance Salah satu metodologi untuk memperoleh strategi maintenance yang tepat yaitu menggunakan metodologi Reliability Centered Maintenance (RCM). RCM pertama kali diperkenalkan oleh Stanley Nowlan dan Howard Heap, dalam laporannya tahun 1978, yang merupakan pegawai United Airlines yang disponsori oleh Departemen pertahanan Amerika Serikat. Didasari oleh data statistik tentang pola kegagalan yang terjadi di industri pesawat terbang, ternyata probabilitas kegagalan tidak hanya berbentuk kurva bak mandi (bathtub curve), tetapi terdapat 6 pola kegagalan, maka dikembangkanlah sebuahmetodologi yang memilih strategi maintenance paling tepat sesuai dengan konteks operasinya.
Pengertian RCM dari pencipta (authors) RCM yaitu Stanley Nowlan dan Howard Heap sebagai berikut: (kata-kata dalam kurung adalah tambahan dari KONSULTAN) (disarikan dari pengalaman penulis menjadi konsultan implementasi RCM di salah satu perusahaan minyak di Indonesia)
|
|
baca selebihnya...
|
|
|
Monita adalah produk online monitoring system Daun Biru Engineering yang dapat di konfigurasi bebas untuk keperluan apapun. Produk ini pada awalnya didesain terutama adalah untuk membantu kegiatan perawatan mesin, dimana kemajuan/kemunduran mesin dapat direkam dan kemudian dianalisa. Sifat data yang dapat direkam yang universal (asal ada sensor, maka kita dapat buatkan interfacenya) menyebabkan kemungkinan pengembangan produk ini pada bidang lain terbuka lebar.
Kesempatan untuk menerapkan monita pada lingkungan lain selain pembangkit tenaga diesel kami peroleh berkat adanya penelitian potensi pembangkit tenaga angin di Indonesia. Potensi angin Indonesia yang angin-anginan (ada, tetapi tidak besar & sangat berbeda karakterisitiknya dengan daerah sub tropis) menyebabkan diperlukannya data yang lebih detil, bukan hanya angin (kecepatan & arah), tetapi juga karakteristik sistem pendukung untuk menghasilkan tenaga (listrik) dari angin ini.
|
|
baca selebihnya...
|
|
|
Deteksi Penyimpangan Defleksi Baik tidaknya defleksi crankshaft dapat diketahui dari beberapa cara. Analisis vibrasi adalah salah satu cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi baik tidaknya defleksi crankshaft. Pada pengukuran unit pembangkit diesel di PLTD Lueng Bata, Banda Aceh, ditemukan kasus menarik, dimana pengukuran vibrasi pada tumpuan mampu mendeteksi adanya penyimpangan defleksi crankshaft. Baca selengkapnya |
|
|
Predictive maintenance sebagai langkah cost down Kenaikan harga listrik dan BBM memberikan dampak negatif kepada industri, kemudian mendorong industri untuk segera mencari alternatif-alternatif tindakan untuk melakukan penghematan (Cost down). Beberapa langkah manajemen telah diterapkan seperti Visible management, Badge system, Lean Manufacturing System, 5S concept, Just In Time, Batch system, bahkan sebelum gejolak harga BBM terjadi. Sehingga ketika muncul gejolak harga BBM, pelaku industri mengalami seleksi alam untuk bertahan. Selain langkah-langkah cost down oleh manajemen pada bagian produksi, bidang perawatan mesin (maintenance) menjadi salah satu faktor produksi terbesar yang juga dapat dikontrol. Dengan menggunakan teknologi terbaru yang dikenal dengan predictive maintenance base on condition monitoring, akan membantu industri dalam mengontrol beaya perawatan mesin, mengontrol penggunaan Bahan Bakar Minyak, Kehandalan (reliability) dan Prestasi (performance). Jangan biarkan bahan bakar terbuang percuma, jangan biarkan mesin loss of performance (derating) dan jangan biarkan mesin mengalami kerusakan (catasthropic failure). Jika mesin tiba-tiba mengalami kerusakan akan mengakibatkan produksi berhenti (stopline) dan tentunya akan mengalami kehilangan beaya besar, belum lagi untuk mengganti spare part dan memperbaikinya. Langkah-langkah cost down yang dilakukan oleh pihak managemen dibidang produksi menjadi percuma jika beaya di bidang perawatan mesin tidak dapat dikontrol. Semua kerugian tersebut dapat dihindari dengan menerapkan konsep predictive maintenance. |
|
|
|