Kamis, 9 September 2010
Home arrow Artikel arrow Luapan Hati
Luapan Hati
Memidahkan Gunung
Pada tahun 1945 Jepang dan Indonesia sama-sama hancur, Jepang jauh lebih hancur daripada bangsa ini, namun setelah 61 tahun lebih keadaannya sudah jauh berbeda. Bangsa ini masih berkutat dengan kelaparan, penyakit, mencari hutang ke negara lain, memberantas korupsi, sementara Jepang sudah mendunia dengan Honda, Toyota yang kini sudah menjadi produsen mobil dengan penjualan terbesar di dunia.

Daun Biru adalah sekelompok manusia  dengan rasa cinta yang besar terhadap bangsa ini. Jangan tanyakan seberapa besar cinta kami terhadap bangsa ini, juga jangan tanyakan seberapa sumbangsih yang telah kami berikan untuk bangsa ini, mungkin terlalu kecil atau bahkan dianggap tidak ada sama sekali. Bangsa yang terlalu besar ini terlalu besar pula masalahnya, bahkan kalau boleh diibaratkan lebih mudah memindahkan gunung daripada menyelesaikan pelbagai masalah kompleks yang ada di bangsa yang sudah sekarat. Sebut saja korupsi, entah sampai kapan penyakit yang sudah kronis ini akan dapat terselesaikan, mungkin lebih cepat memindahkan Gunung Semeru ke Timur Tengah daripada membuat korupsi tamat riwayatnya di tanah ini.

Dengan daya dan kemampuan yang ada kami ingin membantu bangsa tercinta ini. Apapun keadaannya Tuhan sudah mempercayakan kami lahir di tanah ini, besar di tanah ini, dan kami percaya ada sejuta tanggung jawab yang diberikan-NYA kepada kami atas bangsa ini. Di penghujung 2006 ini kami mungkin belum memberikan sesuatu yang dapat memindahkan gunung masalah bangsa ini seutuhnya, namun jalan itu masih kami terus tempuh.

Tahun 2007 sudah menunggu, sebuah tahun yang mungkin belum menjadi proklamasi berpindahnya gunung masalah bangsa, namun kami percaya bahwa suatu masa akan datang dimana gunung itu berpindah dan tangan kami, keringat kami, pikiran kami ingin menjadi bagian dalam sejarah itu. Pasti!!

Tuhan, berikanlah aku ketenangan untuk menerima hal-hal yang tidak dapat kuubah, keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat diubah, dan kebijakan untuk mengetahui perbedaan diantaranya (Reinhold Niebuhr).
 
Dirgahayu Republik
Tampaknya waktu 61 tahun masih terlalu pendek bagi kita untuk menjadi besar, menjadi hebat dan menjadi bunga dunia. Menjadi besar mungkin mudah, karena memang dari dulu kita besar, menjadi hebat juga mudah, karena manusia adalah mahluk hebat, menjadi bunga dan rahmat seluruh alam mungkin yang sulit.

Soekarno pernah bilang, "Beri aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru! Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia.

Saat ini, dalam usia Daun Biru yang hampir 2 tahun, mungkin kami sudah mengguncang dunia, dunia kecil kami sendiri, dunia maintenance, dunia vibrasi, dunia diesel, dunia pendidikan, dunia bisnis atau mungkin hanya dunia tempurung saja. Kami tidak tahu.

Tidak diragukan cinta kami pada Tanah Air Indonesia, tapi cinta saja tidak cukup, beri kami semangat, beri kami dukungan, beri kami masukan, beri kami kemudahan, dan beri kami waktu.

Supaya kita benar bisa mengguncang dunia, bukan dengan bom, bukan dengan nuklir, bukan juga dengan gempa. Supaya kita bisa berjalan dengan kepala tegak, dada membusung, dan ostrali, amerika, israel, singapura, malaysia tidak macam-macam dengan kita, anak cucu kita, TKI kita, pulau kita dan hak-hak kita.

Semoga.
Sekali Merdeka tetap Merdeka.